MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN
MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN
KATA
PENGANTAR
Pertama-tama
kami panjatkan segala puji dan rasa syukur setinggi-tingginya kehadirat Tuhan
Yang Maha Esa, karena atas hidayah dan inayah-nya jualah sehingga makalah ini
dapat selesai tepat pada waktunya, dengan judul masyarakat dan kebudayaan. kami sebagai penulis menyadari bahwa
dalam proses penulisan makalah ini, masih sangat kurang kesempurnaan baik
materi cara penulisannya, namun demikian penulis berupaya dengan segala
kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan baik dan
oleh karenanya kami selaku penulis dengan rendah hati dan dengan terbuka
menerima masukan, saran, dan usul guna menyempurnakan artikel ini. Akhirnya
kami selaku penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh
pembaca.
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Masyarakat
tidak lain dari orang perorang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan.
lalu masyarakat merupakan pendukung, pemelihara, pengembang dan mewariskan
kebudayaan tersebut kepada generasi berikutnya. Tingkat kebudayaan dalam hal
kenyataan social meliputi arti nilai, symbol, norma dan pandangan hidup pada
umumnya yang dimiliki bersama oleh anggota suatu masyarakat.
Kata
budaya berasal dari bahasa sansekerta “ budhayair
“, bentuk jamak dari “budhi” yang
berarti akal atau budi. Sehingga kebudayan dapat diartikan sebagai hal-hal yang
bersangkutang dengan akal budi. Kebudayaan adalah segala sesuatu yang di
hasilkan oleh manusia berdasarkan kemampuan akalnya atau gagasannya.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Apa
hubungan masyarakat dengan kebudayaan ?
2.
Apa konsep kebudayaan dan bagaimana cara
memperoleh kebudayaan ?
3.
Apa corak
pengetahuan dan bagaimana operasionalisasi kebudayaan ?
C.
MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dan
tujuan penulis dalam penyusunan makalah ini adalah untuk menambah wawasan yang lebih luas serta untuk menambah
pengetahuan yang lebih dalam bagi
penuliskhususnya, maupun para pembaca pada umumnya. Meskipun dalam pemaparan
makalh ini hanya beberapa materi saja, namun diharapkan tidak akan mengurangi
maksud dan tujuannya sebagai pembekalan wawasan hitoris terhadap setiap calon
tenaga pendidik. Selain hal tersebut, maksud maksud dan tujuan penulis dalam
penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhu salah satu tugas mata kuliah ilmu
social badaya dasar.
D. MANFAAT
1.
Agar
mahasiswa dapat mengetahui hubungan masyarakat dengan kebudayaan
2.
Sebagai
bahan ajar untuk materi ilmu social budaya dasar terkhusus pada masyarakat dan
kebudayaan.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN
Istilah masyarakat dalam bahasa inggris disebut “society”, sedangkan dalam bahasa arap disebut “ syereha”, ikut serta atau saling bergaul. Dalam istilah sosiologisnya disebut “berinteraksi”. Masyarakat merupakan suatu system social atau kesatuan hidup manusia yang mempunyai banyak factor dalam pembentukannya, sehingga banyak defenisi yang dikemukakan oleh para ahli.
·
Menurut Selo Sumarjan ( 1974
), bahwa masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan
kebudayaan.
·
Menurut Koentlaraningrat (
1982 ), memberikan devenisi tentang masyarakat sebagai “ suatu kesatuan hidup
manusia yang berinteraksi menurut system adat istiadat tertentu yang bersifat
kontinyu dan terkait oleh rasa identitas yang bersama.
·
Menurut Nottingham ( 1954 ),
mengatakan pendapatnya bahwa masyarakat adalah “ setiap kelompok manusia yang
hidup bekerja sama dalam waktu relative lama dan mampu membuat keteraturan
dalam hidup bersama dan menjadi sebagai suatu kesatuan”.
Sedangkan
budaya berasal dari bahasa sansekerta “
budhayair”, bentuk jamak dari ‘ budhi” yang berarti akal atau budi.
Budaya dalah segala daya, kemampuan, kegiatan, mengelolah, merobah dengan
memanfaatkan kemampuan lingkungan sekitar. Selain defenisi diatas para ahli
juga berpendapat tentan kebudayaan, antara lain :
·
Edward B. Taylor bependapat bahwa Kebudayaan
merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan,
kesenian, moral, hukum, adapt istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang
didapat oleh seseorang sebagai anggota masyarakat.
·
M. Jacobs dan B.J. Stern berpendapat
bahwa Kebudayaan mencakup keseluruhan yang meliputi bentuk teknologi sosial,
ideologi, religi, dan kesenian serta benda, yang
kesemuanya merupakan warisan sosial.
·
Menurut Koentjaraningrat bahwa
Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia
dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan
relajar.
Dari pendapat
beberapa ahli diatas maka dapat dapat disimpulkan bahwa kebudayaan adalah
merupakan hasil pola pokir manusia yang terbentuk dan dijadikan suatu
kebiasaan, yang di dalamnya mengandung etika, norma-norma, serta nila-nilai dan
cita-cita untuk mencapai suatu kehidupan yang baik serta dapat di terima oleh
masyarakat luas.
B.
HUBUNGAN
MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN
Pertumbuhan dan penyebaran penduduk
dapatlah diartikan pindahnya penduduk dari suatu tempat ke tempat lain oleh
apapun sebabnya, yang akan menyebabkan terjadinya perubahan penduduk. Prosesnya
dengan imigrasi atau emigrasi dan transmigrasi. Perpindahan penduduk atau
migrasi selalu membawa hal-hal yang penting terhadap ciri atau karakteristik
penduduk suatu Negara, secara terus menerus terjadi dengan teratur,
intensitasnya bervariasi serta di tiap bagian dunia berbeda.
Penyebaran penduduk juga tidak lepas
dari konsep tentang kemajuan masyarakat atau kemajuan kebudayaan manusia yang
dengan lambat berkembang dari bentuk-bentuk bersahaja ke bentuk-bentuk yang kompleks.
Mulai dari tingkat masyarakat berburu atau tingkat liar ( savage ), tingkat
beternak atau tingkat barbar ( barbarism ), dan tingkat pertanian ketika
berkembang peradabannya ( civilization ). Perkembangan kebudayaan ini otomatis
akan terjadi penyebaran penduduk yang erat hubungannya dengan factor ekologis.
Bilamana menemukan daerah-daerah subur, maka disitu peradaban akan berkembang
dan penduduk menetap.
Contoh :
Daerah Euphart dan
Tigris merupakan lembah yang pernah didiami yang cukup padat.
Sepanjang masa di muka bumi ini
senantiasi terjadi gerak perpindahan bangsa-bangsa yang saling berhubungan
serta saling mempengaruhi. Ini semuanya merupakan tugas ahli-ahli etnologi
ilmu-ilmu bangsa untuk mencari kembali sejarah gerak perpindahan bangsa-bangsa,
prosessaling mempengaruhi, serta penyebaran kebudayaan manusia dalam jangka
waktu berate-ratus ribu tahun yang lalu, mulai saat terjadinya manusia hingga
sekarang.
Salah satu konsep bahwa masyarakat
tidak lain dari orang perorang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan.
lalu masayarakat merupakan pendukung, pemelihara, pengembang dan mewariskan
kebudayaan tersebut kepada generasi berikutnya. Sebaliknya kebudayaan dan
tradisi membuat keteraturan bagi proses interaksi di antara sesama anggota masyarakat
yang bersangkutan. Secara ekstrim bisa dikatakan sebagai cultural
determination, yang berarti segala aspek yang menjadi bagian dari suatu
masyarakat.
Eksistensinya atau keberadaannya
ditentukan oleh kebudayaan dan tradisi yang dimiliki serta di dukung oleh
masyarakat tersebut. Kebudayaan sebagai super organic dengan sendirinya dapat
mempengaruhi dan menentukan cara berpikir bersama, bersikap dan berperilaku
dari manusia itu sendiri. Peranan kebudayaan yang seperti ini tidak hanya
berlaku dalam generasi tertentu, namun sudah turun temurun dari generasi ke
generasi silih berganti.
Tingkat kebudayaan dalam
halkenyataan social meliputi arti nilai, symbol, norma, dan pandangan hidup
pada umumnya yang dimiliki bersama oleh anggota suatu masyarakat. tingkat
kebudayaan berarti melihat realitas social yang luas adalah terdiri dari produk –
produk tindakan dan interaksi manusia, termasuk karya cipta manusia berupa
materi dan non materi. Kebudayaan non materi adalah keseluruhan kompleks yang
meliputi pengetahuan, seni, kepercayaan, moral, hukum, kebiasaan, dan kemampuan
– kemampuan serta tata cara lainnya yang diperoleh manusia sebagai seorang
anggota masyarakat.
Di dalam suatu masyarakat selalu
terjadi interaksi, factor utama yang mempengaruhi terjadinya interaksi social
adalah :
1.
Imitasi
2.
Sugesti dan
3.
Simpatik
Sedangkan syarat
– syarat terjadinya interaksi social adalah :
1.
Kontak social ( social contact )
2.
Komunikasi social ( social
communication )
Adapun bentuk – bentuk interaksi
social adalah kerja sama ( cooperation ), kompetisi ( competition ), komplik (
complicit ), dan akomodasi ( accommodation ). Kontak social dapat berlangsung
secara perorangan, perorangan dengan kelompok dan sesame kelompok.
Manusia sebagai makhluk social (
zoon politicon ); artinya manusia sebagai individu tidak akan mampu hidup
sendiri dan berkembang sempurna tanpa hidup bersama dengan individu manusia
lainnya. Setidak – tidaknya dengan ibu dan ayah yang memelihara dan melindunginya.
Keharusan hidup bersama itu didasari oleh kebutuhan manusia yang hanya di
penuhi apabila berhubungan dengan atau mendapat bantuan dari manusia yang lain.
Dengan kata lain, manusia harus hidup bermasyarakat saling berhubungan dan berinteraksi satu sama
lain dalam kelompoknya dan juga dengan individu di luar kelompoknya guna
memperjuankan dan memenuhi kepentingannya.
C.
KONSEP DAN CARA
MEMPEROLEH KEBUDAYAAN
Kata budaya berasal dari bahasa sansekerta yaitu “ budhayair “, benruk jamak dari “ budhi “ yang berarti akal atau budi. Sehingga kebudayaan dapat diartikan sebagai hal – hal yang bersangkutan dengan akal atau budi. Kebudayaan adalah segala sesuatu yang di hasilkan oleh manusia berdasarkan kemampuan akalnya atau gagasannya.
·
Menurut Koentjaraningrat ( 1982 )
mengemukakan bahwa kebudayaan dalam hahasa inggris adalah “ culture
“ berasal dari kata “ colera “ dari bahasa latin yang berarti mengelolah atau
mengerjakan; dalam arti mengolah tanah
atauhidup bertani.
Meman pengertian
kebudayaan atau culture adalah segala daya, kemampuan dan kegiatan untuk
mengolah, bahkan merubah dan memanfaatkan alam lingkungannya.
·
Menurut suparlan ( 1982 ),
mendefenisikan kebudayaan sebagai “
keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosialyang di gunakan untuk
menginterpretasikan dan memahami lingkungan yang di hadapi untuk menciptakan
serta mendorong terwujudnya kelakuan.
·
Lebih lanjut suparlan ( 1982 ) menyatakan bahwa “ kebudayaan itu hanya
mencakup pengetahuan atau satuan ide ( gagasan ) saja, sedangkan kelakuan dan
hasil kelakuan saling mempengaruhi dalam kehidupan manusia
Satuan
ide adanya di dalam kepala manusia dan tidak bias dilihat, sedangkan kelakuan
dan hasil kelakuan sebagai satuan gejala berada pada tingkat kenyataan dan
dapat di lihat pada ruang dan waktu tertentu.
Manusia
sebagai makhluk budaya ( homo humanus ); artinya manusia itu makhluk ciptaan
Tuhan Yang Maha Esa yang paling sempurna, karena sejak lahir sudah dibekali
dengan unsur akal ( ratio ), rasa ( sense ), dan karsa ( will, wish ) yang
membedakannya dengan makhluk lainnya. Sebagai makhluk berbudaya, manusia hanya
mampu mengembangkan diri dan budayanya, apbila berhubungan ( bergaul ) dengan
manusia lain. Dalam hubungan tersebut, manusia dapat mempertimbangkan mana yang
benar dan mana yang sala, mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang
bermanfaat dan mana yang merugikan. Pertimbangan inilah yang mendasari
terjadinya system nilai budaya yang menjadi pedoman ( norma ) di dalam
kehidupan bermasyarakat.
Bagaiman
kebudayaan di peroleh? Kebudayaan adalah pengetahuan manusia sebagai makhluk
berbudaya. Hal ini berarti bahwa pengetahuan itu tidak di peroleh lewat warisan
genetika yang ada dalam tubuh, namun diperoleh melalui kedudukan manusia
sebagai makhluk social. Berarti kebudayaan diperoleh melalui proses
pembelajaran, manusia dapat menambah bermacam – macam pengetahuan dan
pengalaman. Kebudayaan juga menyebutkan sebagai “ learned behavior”, yakni sejumlah perilaku yang diperoleh melalui
proses belajar.
Berkaitan
dengan hal tersebut, ada 3 ( tiga ) macam cara manusia untuk memperoleh
kebudayaan, antara lain :
1.
Kebudayaan diperoleh melalui
pengalaman di dalam menghadapi lingkungannya. Ransangan lingkungan terutama
dari segi fisik yang non hayati maupun hayati di luar manusia.
2.
Kebudayaan diperoleh melalui
pengalaman sebagai makhluk social, sumber stimulusnya terutama berasal dari
unsur – unsur lingkungan social dari berbagai hubungan social pula.
3.
Kebudayaan diperoleh malalui
komunikasi simbolik, ( benda, tindakan, ucapan, gerak tubuh peristiwa yang
memiliki makna ). Dalam proses penerimaan pengetahuan melalui proses komunikasi
simbolik ini petunjuk – petunjuk lebih di tekankan daripada pengalaman dari isi
penerima pesan itu sendiri.
Pada dasarnya kebudayaan dimiliki
oleh individu atau warga masyarakat dari kesatuan sosialnya. Namun disatu sisi
manusia juga sebai makhluk social dan hidup bersama, sehingga pada dasarnya
kebudayaan itu adalah milik individu dari warga masyarakat yang bersangkutan.
Hal ini di pahami, karena mereka harus berkomunikasi dengan menggunakan symbol
– symbol yang maknanyaharus di mengerti oleh semua anggota masyarakatnya.
Sedangkan yang memberikan arti pada symbol – symbol itu adalah kebudayaan itu
sendiri. Semuanya ini merupakan pertanda bahwa setiap warga baru dapat
dikatakan mempunyai kebudayaan yng lama, sehingga baru bias dinamakan bahwa
suatu masyarakat apabila mamiliki kebudayaan yang bersifat general.
Pertama yang harus di pahamibahwa
kebudayaan hanya dimiliki oleh makhluk manusia atau hanya manusia yang
berbudaya dan berkebudayaan. Secara sederhana dinyatakan bahwa kebudayaan
adalah seluruh hasil aktivitas tingkah laku manusia baik yang teraga ( material
) maupun yang tidak teraga ( non material ).
Manusia dan kebudayaan terbina dan
dikonfirmasikan ke dalam paduan kesenyawaan antara individu, masyarakat, dan
kebudayaan. paduan ketiga komponen tersebut di paut oleh suatu ikatan
dimensional yang menempatkannya ke dalam lingkup keterkaitannya dengan anasir –
anasir penentu yang bersifat material ( mata pencaharian hidup peralatan dan
perlengkapan hidup, system ekonomi ), juga yang bersifat non material ( system
kemasyarakatan ), bahasa, system hukum, system perkawinan, struktur sociall
kemasyarakatan, strata social, status, dan peranan organisasi social, system
kekerabatan, system pengetahuan, kesenian, system kepercayaan, atau religi.
Anasir – anasir seperti inilahyang merupakan unsure kebudayaan. manusia dan
kebudayaan dalam konteks perubahan, implikasinya tercermin di dalam suatu
eksidensi yang eksistensial. Bahwa perubahan kebudayaan selalu di ikuti oleh
perubahan masyarakat. penyebab perubahan yang dating dari luar maupun timbul
dari dalam lingkungan masyarakat itu sendiri senantiasa di dasari oleh stimula
– stimula yang berorientasi pada :
·
Adanya ketidak puasan terhadap kondisi
dan situasi yang dihadapi, sehingga pada keinginan untuk berusaha merubah
kondisi dan situasi yang dialami agar lebih baik dari yang sebelumnya.
·
Adanya pengetahuan berdasarkan
pengalaman tentang perbedaan antara yang ada dan dialami dengan yang seharusnya
bias ada dan dapat diperoleh.
·
Adanya tekanan – tekanan dari luar
seperti kompetisi ( persaingan ) seharusnya menyesuaikan, perwujudan hasrat
social ( ingin tahu, kemampuan meniru, hasrat berjuang ) dan sebagainya.
·
Adanya upaya pemenuhan segala
kebutuhan dari dalam utuk mencapaiefisiensi dan peningkatan produktivitas dan
sebagainya.
Dengan demikian adanya perubahan
kebudayaan yang terkait erat dengan perubahan masyarakat, intisarinya terletak
pada adanya stimula – stimula pendorong antara lain keempat factor yangdi
sebutkan yang sekaligus menjadi kekuatan pendorong sehingga terjadi perubahan.
Perubahan kebudayaan yang diikuti oelh perubahan masyarakt tidak lepas dari
munculnya ide – ide dan gagsan serta keyakinan – keyakinan yang merupakan
produk yang pasti akan menghasilkan temuan – temuan baru yang bersifat inovatif
dalam lingkup inilah terungkap apa yang disebut difusi.
D. CORAK PENGETAHUAN DAN OPERASIONALISASI
KEBUDAYAAN
Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan
manusia yang di gunakan untuk menginterprestasikan dan memahami lingkungannya.
Isi setiap kebudayaan pada dasarnya adalah system kategorisasi atau
penggolongan. Semua benda , peristiwa, manusia dan fanomena lainnya yang ada
dalam lingkungan hidup manusia di golong – golongkan. Bahkan ada yang di
golongkan saling bertentangan namun
tetap saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain. Misalnya ada yang di
perbolehkan dan ada yang tidak di perbolehkan, ada perkawinan dan ada
perceraian dan sebagainya.
Ada beberapa aspek pengkategorisasian
kebudayaan, antara lain :
·
Keragaman unsure – unsure lingkungan
dapat disederhanakan ke sejumlah kategori kebudayaan.
·
Mengideentifikasi berbagai unsure dan
menempatkan masing – masing unsure tersebut berdasarkan pengkategorisasian.
·
Mengurangi proses belajar yang terus
menerus tentang kebudayaan yang berkembang dalam lingkungan, karena mudahnya
unsure – unsure yang baru di masukkan ke
dalam system pengkategorisasian untuk lebih mudah memahaminya.
·
Secara instrumental dapat dipahami
kaitannya antara dua kategori atau lebih.
·
Bias menata berbagai kategori
kebudayaan ke dalam suatu keteraturan dan setiap individu dapat menempatkan
dirinya ka dalam system keteraturan tersebut.
·
Memungkinkan manusia mampu meramalkan
dan mengantisipasi peristiwa – peristiwa yang akan terjadi dimasa akan datang
berdasarkan berbagai kategori kepada perspektif ruang dan waktu.
System pengkategorisasian menjadikan
pengetahuan manusia memuat seperangkat model – model pengetahuan yang akan menjadi
pegangan untuk
memahami berbagai
masalah dan fanomena serta kategori tertentu yang berkaitan dengan kategori
lainnya. Penggunaan kebudayaan dalam kehidupan manusia tidak selamnya secara
keseluruhan. Namun bisa di seleksi model – model yang cocok didasarkan pada
etos dan pandangan hidup suatu masyarakat untuk menciptakan suatu kelakuan.
Konsep kebudayaan ternyata sangat luas
ruang lingkupnya dan untuk menganalisis aspek – aspek akan dideskripsikan kepada 2
dua ) pengkategorisasian, yaitu :
1.
Unsur – unsur kebudayaan
Untuk menganalisis konsep kebudayaan
dapat dilakukan dari konsep unsur – unsur yang bersifat universal.
·
Menurut Malinowsky ( 1961 ) unsur
universal ini meliputi 7 ( tujuh ) unsur ketujuh unsur tersebut berdasarkan
urutan mana unsur –unsur itu lebih dahulu yang muncul. Teori mengatakan bahwa
unsur bahasa yang paling terdahulu muncul dalam kebudayaan manusia.
·
Menurut Koentjaraningrat ( 1982 )
bahwa homo erectus atau phithecantropus erectus yang hidup dalam kelompok –
kelompok antara 8 – 10 individu telah mampu bekerja sama dan berkomunikasi
dengan sesamanya malalui suatu system lambing yang tidak terbatas banyaknya.
Keterbatasan organism manusia bila
dibandingkan dengan makhluk – makhluk lainnya di bumimemungkinkan berkembangnya
fungsi akal manusia untuk memanfaatkan dan meningkatkan kebermaknaan benda –
benda yang berada di sekitarnya ( bongkahan batu, kayu, tulang dan sejenisnya )
untuk menunjang kelangsungan hidupnya. Disinilah muncul system teknologi atau
system peralatan, kemudian menyusul system mata pencaharian, system social dan
system organisasi dan akhirnya system kesenian.
Pertama yang harus di pahami bahwa pilar
pembatas antara manusia ( human ) dengan yang bukan manusia ( infra human )
adalah budaya dan kebudayaan. bila manusia ditinjau dari sudut budaya, maka
yang menjadi titik pengamatan adalah seluruh hasil aktivitas tingkah lakunya
dalam bentuk karya. Karena satu – satunya keunggulan manusia dalam berkarya
adalah merubah keterhamparan alam yang serba pasifmenjadi berfungsi sehingga
memiliki nilai tambah.
Aktivitas karya – karya manusia berawal
dari merubah hamparan alam yang serba pasif,tahap demi tahap manusia mulai
menguasai alam. Dengan kata lain ketergantungan manusia terhadap alam semakin
tersisi disebabkan oleh kemampuan manusia menggunakan akal pikiran. Pada
awalnya alam dianggap angker, rimba raya dianggap berpenghuni, pohon – pohon
besar di beri sesajen, hutan belantara di biarkan tumbuh karena dianggap
tersinggung penghuninya bila diganggu, kini telah berubah drastis.
Tahapan – tahapan perubahan cara
berfikir melalui penggunaan akal pikiran melahirkan sejumlah hasil karyamanusia
dalam bentuk teknologi serba efektif, berhasil guna dan daya guna. Transportasi
menggunakan hewan tunggang, berganti dengan alat – alat serba canggih. Mulai
dari beberapa jenis hewan tunggangan beralih kepada sepeda, dokar, becak,
melejit silih berganti kepada penciptaan berbagai jenis kendaraan beroda dua,
beroda empat, pesawat terbang, kereta api sampai kepada jenis – jenis pesawat
luar angkasa.
·
Lebih jauh B. Malinowsky ( 1961 ),
menginventarisasikan beberapa unsur kebudayaan secara kongkrit ( fisik ) dan
tidak kongkrit, meliputi :
1.
System teknoligi
2.
System mata pencaharian
3.
System organisasi social
4.
System pengetahuan
5.
System kesenian
6.
System religi
7.
System bahasa
Demikian pesatnya kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknogi yang menempatkan posisi manusia sebagai penguasa dan
penakluk alam, yang sebelumnya terkungkungoleh ketergantungan atas belas kasih
dari pemberian alam. Apabila manusia di tinjau dari sudut budaya telah
menghasilkan sejumlah produk sebagai output dariilmu pengetahuan dan teknologi
seperti disebutkan, maka akan timbul pertanyaan “ apakah manusia mampu
mempertahankan keseimbanaganantar keserasian alam dan lingkungan dengan aneka jenis
produk ilmu pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan. Alangkah naïf jawabannya
jika realisasi keseimbangan baru akan di mulai serta di upayakan, sementara
keasrian alam dan lingkungan terjungkal dalam keparahan di sebabkan oleh ulah
kepesatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah menembus batas ketidak
asrian.
2.
Wujud kebudayaan
· Menurut
Steward ( 1979 ), bahwa kebudayaan hanya ada pada manusia yang
dimannifestasikan kepada 3 ( tiga ) bagian yaitu :
1.
Wujud kompleksitas ide – ide ( konsep,
gagasan dan pemikiran ).
2.
Wujud aktiviatas berpola sebagai
organisasi social, dan
3.
Wujud kompleks yang bersifat
kebendaan.
Kompleks yang bersifat ide – ide atau gagasan yang bersifat abstrak,
sehingga tidak dapat dilihat, difoto, dan difilmkan, karena berada dalam alam
pikiran penganutnya.
· Menurut
Koentjaraningrat ( 1982 ), azas – azas yang saling berkaitan membuat
gagasanatai
ide – ide yang ada dalam pikiran sebagai suatu system yang utuh,
relative matang dan kontinyu. Kompleks
aktivitas organisasi social yang berpola menyebabkan terjadinya interaksi
antara sesame anggota masyarakat.kompleks yang bersifat kebendaan, dapat
dilihat, diamati dan difilmkan.aktivitas manusia yang saling saling berinteraksi
lazim di polakan oleh gagasan atau pikiran manusia itu sendiri, sedangkan
aktivitas yang dalam bentuk komunikasi, kerja sama dan konflik
banyakmenimbulkan gagasan yang baru.
Aktivitas yang saling berkomunikasi,
bekerja sama dan konflik menggunakan sebagai system peralatan yang melahirkan
karya dan menghasilkan aneka ragam benda untuk memenuhi kebutuhan yang disebut
kebudayaan fisik.
Suatu kebudayaan adalah kongfigurasi dari
pada tingkah laku yang dipelajari dan hasil daripada tingkah laku yang unsur – unsur pembunaannya di miliki bersama
dan dilanjutkan oleh anggota – anggota masyarakat tertentu.
Perwujudan ( konfigurasi ) tingkah laku
serta hasil dari tingkah laku yang dipelajari dalam keseluruhan aktivitas,
berkegiatan, merupakan salah satu cirri bahwa manusia memiliki kemampuan untuk
mencipta dan berkarya . dengan mencipta dan berkarya berarti manusia yang
menghimpung diri di dalam kelompok masyarakat di samping sanggup mempertahankan
kelanjutan kehidupannya, di lain pihak selalu berusaha agar semua hasil dalam
berkarya menempati urutan pertama.
Kemajemukan dalam masyarakat Indonesia pada
dasarnya dapat dipahami sebagai sebuah bentuk perbedaan daya adaptasi antar
kelompok – kelompok yang berada secara ras, suku bangsa, agama, dan bahasa, sehingga
menjadikan kelompok – kelomok yang memiliki tingkat perkembangan kebudayaan,
baik secara social, ekonomi maupun politik. Dengan proses yang demikian, dengan
mudah dapat di pahami pada adanyaketidak keseimbangan dan kesenjangan yang
dapat saja berlanjut kea rah pertikaian antar ras, suku bangsa, dan kelompok
agama, yang di Indonesia popular dengan sebutan masalah sara, yang jelas –
jelas mengancam integritas Indonesia Indonesia sebagai suatu nation.
Perbedaan kebudayaan dalam nation Indonesia
dapat dilihat secara gredaul. Baik antara kelompok – kelompok yang ada di dalam
satu golongan social yang di kategorisasikan ke dalam satu kelompok horizontal
tertentu, maupun antar kelompok – kelompok horizontal itu sendiri. Misalnya
saja dalam masyarakat orang jawa, minangkabau atau batak, ada kelompok –
kelompok social tertentu yang memiliki daya adaptasi yang tinggi dan ada yang
rendah. Demikian pula dengan orang jawa,minangkabau dan batak, pada umumnya,
relative memiliki daya adaptasi yang lebih tinggi ketimbang rata – rata orang
mentawai, ( suku anak dalam ), atau berbagai suku bangsa ( sub – sukubangsa )
yang menghuni pedalaman Kalimantan, Sulawesi dan irian jaya.
Berdasarkan tingkat perkembangan teknologi,
pengetahuan, pola – pola pengeksploitasian dan penguasaan sumber – sumber daya
ekonomi, serta jaringan hubungan dengan masyarakat yang lebih luas ini,
kelompok – kelompok suku bangsa atau subsuku bangsa yang ada di wilayah
kedaulatan republik Indonesia ini setidaknya dapat dibagi ke dalam 4 empat kategori
utama, di mana satu sama lainnya memiliki tingkat daya adaptasi yang berbeda
satu sama lainnya.
1.
Pertama adalah kelompok masyarakat
yang dapat dikategorikan sebagai tribal society. Dari segi komposisi demografi,
jumlah anggota kelompok yang di maksud relative kecil.
2.
Kedua, kelompok masyarakat perladangan
berputar ( rotary cultivation ), atau lebih popular disebut kelompok masyarakat
yang mengembangkan system perladangan berpindah ( shifting cultivation ).
3.
Ketiga kelompok masyarakat petani (
peasant society ). Kelompok masyarakat ini adalah kelompok – kelompok
masyarakat yang mengembangkan system pertanian menetap ( sedenter ).
4.
Keempat adalah kelompok masyarakat
perkotaan. Masyarakat perkotaan adalah suatu masyarakat yang tinggal di suatu
lingkungan pemukiman tertentu, yaitu suatu lingkungan dimana para penghuninya
dapatmemenuhi sebagian besar kebutuhan ekonomi di pasar setempat.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Masyarakat adalah orang – orang yang hidup
bersama dan menghasilkan kebudayaan berdasarkan hasil pola pikir manusia yang
memanfaatkan kemampuan alam sekitarnya sehingga menghasilkan kebudayaan atau
kebiasaan yang dapat diterima oleh masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya,
sedangkan budaya atau culture adalahsegala sesuatu yang dihasilkan oleh manusia
berdasarkan kemampuan akalnya atau gagasannya, budaya dapat juga diartikan
sebagai segala daya, kemampuan, kegiatan, mengelolah, merobah dengan
memanfaatkan kemampuan lingkungan sekitar.
Cara memperoleh kebudayaan di bagi menjadi
3 ( tigs ) macam cara manusia untuk memperoleh kebudayaan yaitu :
1.
Kebudayaan diperoleh melalui
pengalaman di dalam menghadapi lingkungannya.
2.
Kebudayaan diperoleh melalui
pengalaman sebagai makhluk social.
3.
Kebudayaan diperoleh melalui
komunikasi simbolik, ( benda, tindakan, ucapan, gerak tubuh, peristiwa yang
memiliki makna ).
Isi
setiap kebudayaan pada dasarnya adalah system kategorisasi atau penggolongan.
Semua benda, peristiwa, manusia dan fanomena lainnya yang ada dalam lingkungan
hidup manusia digolong – golongkan.penggunaan kebudayaan dalam kehidupan
manusia tidak selamanya secara keseluruhan. Namun bias diseleksi modl – model
yang cocok didasarkan pada etos dan pandangan hidup suatu masyarakat untuk
menciptkan suatu kelakuan.
Konsep
kebudayaan ternyata sangat luas ruang lingkupnya dan untuk menganalisis aspek –
aspek kebudayaan akan dideskripsikan kepada 2 ( dua ) pengkategorisasian, yaitu
:
1.
Unsur – unsur kebudayaan
2.
Wujud kebudayaan
B.
SARAN
Demikianlah makalah ini kami buat, kami sadar bahwa makalah ini jaulah dari kesempurnaan namun kami selaku penulis meminta saran dan kritikan terhadap penulisan makalah ini yang bersifat membangun, sehingga dipenulisan selanjutnya dapat lebih baik dari sebelumnya.
Posting Komentar untuk " MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN"